Ikhlas dan Urgensi Niat

HADITS ke-1 :

Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khaththab ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Segala perbuatan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (pahala) apa yang diniatkan. Barangsiapa berhijrah (ke Madinah) untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari harta dunia atau untuk seorang perempuan yang hendak dinikahi, maka hijrahnya hanya untuk itu (tidak mendapat pahala di sisi Allah).” (Muttafaq’alaih)

Pelajaran-Pelajaran Hadits :

  1. Para ulama sepakat bahwa niat adalah syarat mutlak agar suatu amal diganjar atau dibalas dengan pahala. Namun, apakah niat merupakan syarat sahnya suatu amal atau perbuatan, mereka berbeda pendapat. Ulama Syafi’iyah menyebutkan, “Niat adalah syarat sahnya suatu amal atau perbuatan yang bersifat ‘pengantar’ seperti wudhu dan yang bersifat ‘tujuan’ seperti shalat.” Ulama Hanafiyah menyebutkan, “Niat hanya syarat sahnya amal atau perbuatan yang bersifat ‘tujuan’ dan bukan ‘pengantar’.”
  2. Niat dilakukan di hati, dan tidak ada keharusan untuk diucapkan.
  3. Ikhlas karena Allah merupakan salah satu syarat diterimanya amal atau perbuatan.

HADITS ke-2 :

Abu Ishaq, Sa’d bin Abi Waqqash Malik bin Uhaib bin Abdi Manaf ra. (satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga) berkata, “Pada tahun Haji Wada’, Rasulullah mengunjungiku yang sedang sakit parah. Aku berkata, “Ya Rasulullah, sakitku sangat parah. Aku adalah orang yang kaya, sedangkan ahli warisku hanya seorang anak perempuanku.  Apakah aku boleh menshadaqahkan dua per tiga hartaku?”‘

Rasulullah menjawab, “Jangan”

“Seperdua?”

“Jangan”

“Sepertiga?”

“Boleh sepertiga. Sepertiga itu sudah banyak.  Lebih baik kamu tinggalkan ahli waris dalam keadaan kaya daripada kamu tinggalkan mereka dalam keadaan fakir, dan meminta-minta kepada orang lain. Jika kamu menginfaqkan hartamu untuk keridhaan Allah, kamu akan mendapatkan pahalanya, meskipun itu berupa makanan yang kamu berikan kepada istrimu.”

“Ya Rasulullah , apakah aku tinggalkan setelah teman-temanku. Rasulullah menjawab,”Jika kamu ditinggalkan di Makkah, lalu kamu mengerjakan perbuatan (baik) Untuk mencari ridha Allah, derajat dan kemuliaanmu akan ditambah. Semoga engkau tertinggal (di Makkah), sehingga beberapa kaum bisa mengambil manfaat  darimu dan beberapa kaum yang lain dirugikan oleh keberadaanmu. Ya Allah, lanjutkan hijrah sahabat-sahabatku dan jangan Engkau kembalikan mereka ke tempat yang mereka ke tempat yang mereka tinggalkan. Akan tetapi, orang yangmenderita adalah Sa’d bin Khaulah.”

Perawi berkata,”Rasulullah saw. memberikan ungkapan belasungkawa kepadanya, karena ia meninggal dunia di Makkah.” (Muttafaq’alaih)

Pelajaran-pelajaran Hadits :

  1. Boleh mengeluhkan sakit yang diderita jika ada alasan yang dibenarkan, seperti untuk pengobatan atau minta didoakan oleh orang yang shalih.
  2. Boleh mengumpulkan harta dari sumber-sumber yang halal selama kewajiban harta tersebut ditunaikan.
  3. Orang yang sakit menjelang mati tidak diperbolehkan menshadaqahkan atau mewasiatkan hartanya lebih dari sepertiga, kecuali mendapat izin dari ahli waris.
  4. Amal seorang muslim akan mendapatkan pahala sesuai niatnya.
  5. Memberikan nafkah kepada keluarga akan mendapatkan pahala ketika diniatkan untuk mencari ridha Allah swt.

HADITS ke-3 :

Abu Hurairah ra., Abdurrahman bin Sakhr berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya, Allah tidak melihat tubuh dan rupamu. Akan tetapi, Dia melihat hatimu.”(HR. Muslim)

Pelajaran-Pelajaran Hadits :

  1. Pahala suatu amal sesuai dengan niat dan keikhlasan orang yang melakukannya.
  2. Seorang muslim harus memperhatikan kondisi hatinya, dan membersihkannya dari sifat-sifat yang dibenci Allah swt.
  3. Perbaikan hati harus lebih diutamakan daripada perbaikan amal atau perbuatan.

HADITS ke-4 :

Abul Abbas, Abdillah bin Abbas bin Abdul Muththalib ra. berkata bahwa Rasulullah saw. meriwayatkan dari Tuhannya swt., “Sesungguhnya, Allah mencatat kebaikan dan keburukan (menyuruh malaikatNya untuk mencatat kebaikan dan kejelekan). “Kemudian Allah menjelaskan, “Barangsiapa yang bermaksud mengerjakan kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, maka Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi mencatatnya sebagai satu kebaikan penuh di sisiNya. Jika ia bermaksud untuk melakukan kebaikan lalu dilakukannya, Allah mencatat baginya 10 kebaikan sampai 700 kali lipat, bahkan berlipat-lipat. Namun, jika ia bermaksud untuk melakukan kejelekan, lalu tidak dikerjakannya, Allah mencatatnya sebagai 1 kebaikan penuh di sisiNya. Jika ia bermaksud untuk mengerjakan keburukan lalu dikerjakan, Allah mencatatnya sebagai satu keburukan.” (Muttafaq’alaih)

Pelajaran-Pelajaran Hadits :

1. Orang yang berniat melakukan kebaikan, ia diberi pahala satu kebaikan karena tekad melakukan kebaikan adalah awal kebaikan dan awal kebaikan adalah kebaikan.

2. Orang yang berniat melakukan keburukan, lalu menjauhi keburukan tersebut karena takut kepada Allah, ia diberi pahala satu kebaikan karena niat buruk yang urung dilakukan adalah sebuah kebaikan.

 

One response to this post.

  1. Ikhlas dan niat ini sangat sulit untuk dilaksanakan.
    Bagaimana caranya ?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: