Keutamaan Mencari Nafkah

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mencari harta dunia secara halal, sebagai upaya untuk menjaga diri dari meminta-minta, sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, dan karena menaruh iba kepada tetangganya, dia akan menjumpai Allah dengan wajah bagaikan bulan di malam purnama.” (HR Abu Nu’aim dan Al-Baihaqi)

Pada suatu hari di kala Rasulullah sedang duduk-duduk  bersama dengan beberapa orang sahabat, mereka melihat seorang pemuda yang bertubuh kekar dan berbadan kuat yang pagi-pagi sekali telah bekerja mencari nafkah. Para sahabat bergumam, “Celakah orang ini ! Kalau masa mudanya  dan kekekaran tubuhnya itu digunakan di jalan Allah SWT !”

Lanjutkan membaca

Nasehat Imam Syafi’i (1)

  1. Belajarlah sebelum memegang  jabatan, karena sesudah memegang jabatan maka tak ada lagi kesempatan untuk belajar.
  2. Bukanlah saudaramu jika Anda mencari muka padanya.
  3. Ilmu lebih utama dari pada shalat sunnah.
  4. Ridha manusia itu adalah tujuan yang tidak mudah diraih. Apa yang aku katakan kepadamu hanyalah sebuah nasehat. Jalan untuk selamat itu bukan dari manusia. Perhatikanlah apa yang bisa memperbaikimu. Lakukanlah dan tinggalkanlah manusia beserta apa yang ia punyai.
  5. Persaudaraan sejati adalah menerima kekurangan saudaranya, menutupi kelemahannya, dan memaafkan kesalahannya.
  6. Siapa yang ingin menggapai dunia, gapailah dengan ilmu. Siapa yang ingin menggapai akhirat gapailah juga dengan ilmu.
  7. Belum lengkap, jika seseorang mencari ilmu tidak mengalami kefakiran. Lanjutkan membaca

Takut Tidak Kebagian Rezeki

Sebagian manusia khawatir tidak mendapatkan rezeki, sehingga hidupnya dioptimalkan hanya untuk mencari dunia. Ketahuilah bahwa Allah SWT menjamin rezeki setiap hambaNya.

“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS Hud : 6)

1. Rezeki tidak akan habis sebelum manusia mati

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya Ruhul Qudus meniupkan di dalam jiwaku, sesungguhnya jiwa tidaklah akan mati sehingga telah sempurna rezekinya, maka takutlah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik.”

Lanjutkan membaca

Kematian Ali bin Abu Thalib

Dari Asy-Sya’by, dia berkata, “Tatkala Ali RA ditikam dengan suatu tikaman, maka dia bertanya, “Apa tindakan yang dilakukan orang yang telah menikamku ?”.

Orang-orang menjawab, “Kami sudah menangkapnya.”

Ali berkata, “Beri dia makan dari makananku. Beri dia minum dari minumanku. Jika aku masih hidup, serahkan urusan dirinya kepadaku. Jika aku mati, bunuhlah dia dengan sekali tebasan dan jangan sampai lebih.”

Kemudian Ali berpesan kepada Al-Hasan agar memandikannya, seraya berkata, “Janganlah engkau mengkafani jasadku dengan kain yang mahal, karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam kain kafan, karena ia akan ditarik dengan tarikan yang cepat”. Berjalanlah dua kali lebih cepat dari jalan biasa saat membawa jasadku. Jangan berlari dan jangan terlalu pelan. Jika dirasa baik, kalian bisa cepat-cepat mengurusi jasadku dan jika dirasa buruk, kalian bisa abaikan jasadku.”

Lanjutkan membaca

Majelis Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Ibnu Hanbal banyak belajar ilmu dari para Syekh (guru) ternama di zamannya. Beliau belajar di masjid Jami Baghdad ketika berumur 40 tahun. Pada usia ini sangatlah tepat dan cocok untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Kelihatannya beliau terhalangi untuk belajar sebelum itu karena beliau mungkin malu melakukan hal yang demikian, sementara para Syekh yang mengajar dan mendidiknya masih hidup.

Beliau berharap melakukan hal yang demikian karena kecintaannya terhadap Rasulullah SAW. Ketika Allah membebankan amanah risalah dan tabligh kepada Rasulullah pada usia 40 tahun, Imam Ahmad bin Hanbal sangat berhati-hati dalam mengikuti metode Rasulullah SAW dalam segala hal.

Lanjutkan membaca

Tanda Cinta Allah Kepada HambaNya

Tanda Cinta Allah Kepada HambaNya :

1. Semakin taat beribadah.

2. Pergaulan yang baik.

3. Tidak mengalami musibah dalam agama.

4. Orang yang dikehendaki Allah memperoleh kebaikan, dipahamkan mengenai urusan agama.

5. Allah akan menjadikannya sebagai penolong agama atau pelaku kebajikan.

Lanjutkan membaca

Sebab-sebab Turunnya Bala’ (Musibah)

Turunnya bala’ disebabkan hal-hal sebagai berikut :

1. Meninggalkan Al Qur’an

2. Berpaling dari mengingat Allah

3. Menyia-nyiakan waktu atau mengganggur

4. Memakan yang haram

5. Lalai (akan kematian)

Meninggalkan Al Qur’an

Sekarang ini, Al Qur’an semakin ditinggalkan oleh umat Islam sendiri, menganggap Al Qur’an sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman. Ibnu Qayyim berkata. “Sesungguhnya bentuk meninggalkan dan mengabaikan Al Qur’an itu bermacam-macam :

Lanjutkan membaca

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.